Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren pembiayaan konsumer industri perbankan yang melambat pada Februari 2026 rupanya tak turut dialami Bank Mega Syariah (BMS). Bank mengaku masih mencatatkan pertumbuhan positif di segmen ini.
Data sementara Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan kredit secara industri melambat menjadi 8,9% secara tahunan dari pertumbuhan 10,2% yoy pada bulan sebelumnya.
Sejalan dengan itu, dalam periode yang sama kredit konsumsi tumbuh lebih landai 6,3% yoy dari pertumbuhan 7,2% secara year on year (yoy). Secara rinci, kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit multiguna melambat masing-masing 5% yoy dari 5,5% yoy dan 8,7% dari 9,9% yoy, sementara kredit kendaraan bermotor (KKB) turun makin dalam jadi 7,9% yoy dari 6,7% yoy.
Baca Juga: BSI Optimistis Pembiayaan Konsumer Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Daya Beli
Meski begitu, Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah Benadicto Alvonzo Ferary mengungkapkan, hingga Februari 2026 pembiayaan konsumer BMS tumbuh lebih dari 2,19% sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
“Secara umum, pembiayaan konsumer di Bank Mega Syariah masih menunjukkan kinerja yang positif,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, secara industri perlambatan pembiayaan konsumer pada periode Ramadan dan menjelang Idulfitri merupakan fenomena yang cukup umum. Hal ini seiring dengan kecenderungan masyarakat yang lebih memprioritaskan kebutuhan konsumsi rumah tangga dibandingkan mengambil pembiayaan baru.
Selain faktor musiman, Benadicto bilang sikap kehati-hatian nasabah juga meningkat. Sebagian masyarakat masih cenderung wait and see terhadap dinamika ekonomi, termasuk perkembangan geopolitik global.
Meski demikian, BMS tetap mampu menjaga pertumbuhan pembiayaan konsumer. Menurut Benadicto, hal ini didukung oleh strategi perseroan dalam menjaga kualitas portofolio serta fokus pada segmen yang tepat.
Ke depan, BMS memproyeksikan pembiayaan konsumer tetap tumbuh, meski dengan laju yang lebih moderat seiring kondisi makroekonomi global yang dinamis.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, BMS menerapkan prinsip kehati-hatian dengan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan, khususnya kepada nasabah dengan profil risiko yang lebih tahan terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Selain itu, perseroan juga memfokuskan pembiayaan pada produk dengan underlying asset yang relatif aman dan likuid, seperti pembiayaan cicil emas atau Flexi Gold.
Baca Juga: Allo Bank Pangkas Kepemilikan SBN, Antisipasi Risiko Global dan Tekanan Inflasi
“Strategi ini kami lakukan untuk menjaga kualitas portofolio tetap sehat sekaligus memastikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













