Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia menilai kondisi inflasi biaya baik kenaikan harga barang dan jasa, hingga volatilitas nilai tukar Rupiah berpotensi meningkatkan nilai klaim pada risiko-risiko tertentu.
Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan kondisi tersebut dapat meningkatkan nilai klaim pada risiko-risiko tertentu, khususnya ketika biaya perbaikan, penggantian barang, konstruksi, suku cadang, maupun komponen yang memiliki kandungan impor mengalami kenaikan.
"Misalnya, pelemahan Rupiah dapat meningkatkan nilai indemnity dalam Rupiah apabila objek klaim atau biaya pemulihannya memiliki eksposur terhadap valuta asing," ungkapnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: Adu Kinerja 10 Bank Besar, Ini Bank dengan Pertumbuhan Laba Tertinggi di Semester I
Selain itu, Dody menyebut dinamika perekonomian tentu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan risiko dan klaim perusahaan. Namun, dia bilang pengaruhnya terhadap rasio klaim tidak bersifat seragam untuk seluruh lini bisnis.
"Dampaknya sangat bergantung pada karakteristik portofolio, jenis risiko yang ditanggung, serta perkembangan frekuensi dan severity klaim pada masing-masing produk," tuturnya.
Sementara itu, Dody menyampaikan inflasi medis lebih relevan terhadap portofolio yang memiliki eksposur kesehatan atau manfaat medis. Dia bilang saat ini Asei tidak memiliki produk asuransi tersebut.
Oleh karena itu, Dody mengatakan pengaruhnya terhadap keseluruhan rasio klaim perusahaan perlu dilihat berdasarkan komposisi portofolio, bukan hanya berdasarkan kondisi makro secara agregat.
Secara industri, dia menyampaikan kondisi semester I-2026 memang menunjukkan adanya tekanan pada bisnis asuransi umum dan reasuransi. Hal itu juga terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang mana premi asuransi umum dan reasuransi per Juni 2026 terkontraksi 3,33% secara Year on Year (YoY).
Memasuki semester II-2026, Dody mengatakan beberapa faktor tersebut masih akan dimonitor secara ketat. Namun, dia bilang kenaikan klaim merupakan sesuatu yang otomatis terjadi hanya karena adanya pelemahan Rupiah atau inflasi. Menurutnya, paling penting adalah perubahan frekuensi, severity, dan pola klaim tersebut diterjemahkan ke dalam pricing, underwriting, reasuransi, dan reserving perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resmi, Asei mencatatkan premi bruto sebesar Rp 522,52 miliar per Juli 2026. Adapun klaim bruto mencapai Rp 522,06 miliar per Juli 2026.
Baca Juga: Kritis Hadapi Informasi, Benteng Pertama agar Merdeka dari Penipuan Finansial
Asei berhasil mencetak laba sebesar Rp 5,88 miliar per Juli 2026, sedangkan tingkat Risk Based Capital (RBC) tercatat sebesar 179,08%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














