Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Central Asia Financial (Asuransi Jagadiri) terus bertransformasi seiring perubahan industri asuransi yang kini tidak hanya menitikberatkan pada digitalisasi, tetapi juga pada penyediaan produk yang relevan, penguatan kepercayaan melalui klaim yang transparan, serta perluasan jangkauan lewat kemitraan strategis berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Direktur Operasional dan Layanan Jagadiri, Hilda Limyanton, dalam diskusi bertajuk “Expanding Insurance Reach: Simple Products, Trusted Brands & Stronger Distribution Networks” pada Asian Banking & Finance and Insurance Asia Summit 2026.
Menurut Hilda, produk asuransi selama ini cenderung kompleks sehingga sulit dipahami masyarakat luas, meski ditujukan untuk kebutuhan yang beragam. Menjawab hal itu, JAGADIRI menghadirkan produk yang lebih sederhana, spesifik, dan mudah dipahami dengan premi yang lebih terjangkau serta sesuai kebutuhan tiap segmen nasabah.
Transformasi ini juga diperkuat dengan peralihan model bisnis dari direct-to-consumer ke kemitraan B2B dan B2B2C melalui ekosistem mitra berbasis arsitektur modular. Pendekatan ini memungkinkan Jagadiri menyusun paket perlindungan yang lebih fleksibel tanpa mengorbankan standar kualitas di belakangnya.
Baca Juga: Kontribusi Bruto Prudential Syariah Naik 9%, Ini Tiga Faktor Pendorong Kinerja
“Ini bukan soal kualitas atau kuantitas, tetapi evolusi pembuatan produk. Standardisasi dilakukan di backend,dari underwriting hingga klaim dan reinsurance, agar di depan nasabah tampil lebih personal dan relevan,” ujar Hilda dalam keterangannya, Senin (18/5/2026)
Dalam menghadapi tantangan mengubah nasabah baru menjadi nasabah loyal, Hilda menekankan tiga perubahan utama. Pertama, nasabah perlu dapat memantau status klaim secara real time seperti melacak paket, sehingga mereka mengetahui posisi klaim di setiap tahap. Kedua, bahasa polis disederhanakan agar mudah dipahami tanpa bantuan ahli.
Ketiga, layanan nasabah dikembangkan dengan teknologi yang tetap humanis, sehingga terasa seperti berinteraksi dengan manusia, bukan sistem otomatis—sesuai preferensi masyarakat Indonesia yang menyukai pendekatan personal.
Untuk memperluas jangkauan, Jagadiri tidak membangun seluruh infrastruktur sendiri, melainkan bermitra dengan platform digital, broker, dan agregator berlisensi yang telah memiliki teknologi dan jaringan yang dibutuhkan. Strategi ini menekan biaya operasional sekaligus memperluas akses produk asuransi di kanal yang sudah familiar bagi masyarakat.
Baca Juga: Klaim Reasuransi Tugure Turun 10% pada Kuartal I-2026
Dukungan regulasi turut mempercepat inovasi. Melalui POJK 8/2024, OJK memungkinkan peluncuran produk asuransi tertentu melalui mekanisme pelaporan, cukup dilaporkan dalam lima hari kerja setelah dipasarkan tanpa menunggu persetujuan awal. Hal ini memudahkan Jagadirmenghadirkan produk yang lebih relevan bersama mitra, dengan tetap mematuhi ketentuan yang berlaku.
Dalam setiap kemitraan, Jagadiri tetap memegang kendali atas penilaian risiko, penetapan harga, dan hubungan dengan nasabah, sementara aspek teknis seperti integrasi sistem dan digital onboarding ditangani oleh mitra ahli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













