kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Di 2020, tren perbankan akan mengalami penurunan


Selasa, 26 Agustus 2014 / 23:18 WIB
ILUSTRASI. Harga emas Antam naik Rp 5.000 menjadi Rp 1.054.000 per gram pada Senin (13/3)


Reporter: Dea Chadiza Syafina | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Tingginya margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang diterapkan oleh perbankan saat ini sebenarnya dilakukan untuk memupuk modal perbankan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2020 mendatang.

Sebab, setelah tahun tersebut, yield investasi diperkirakan bakal bergerak flat. Dengan begitu, perbankan perlu memikirkan jalur ekspansi lainnya jika yield sudah flat. Begitu pun dengan likuiditas yang akan semakin sulit.

Menurut Ekonom Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) Aviliani, ke depan masyarakat akan lebih memilih menginvestasikan uangnya ketimbang menyimpan uang di bank. “Sekitar 70% pemasukan masyarakat akan di investasikan,” kata Aviliani, Selasa (26/8).

Hal itu pun akan berdampak pada turunnya konsumsi masyarakat. Sehingga tren perbankan akan mengalami penurunan menjadi hanya sekitar 35%-40%. Sedangkan investasi pada non-bank, akan mencapai 60%-65%.

Ini sebagai imbas dari semakin melek-nya masyarakat Indonesia terhadap investasi. "Dengan begitu, bank yang memiliki anak usaha yang bergerak di bidang lembaga keuangan non-bank, akan tumbuh lebih besar dibandingkan bank yang hanya berdiri sendiri," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×