Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa kinerja intermediasi perbankan Indonesia masih tumbuh positif hingga Februari 2026, dengan profil risiko yang tetap terjaga.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa penyaluran kredit perbankan pada Februari 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 9,37% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencapai Rp 8.559 triliun.
“Kinerja intermediasi perbankan masih tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga,” ujar Dian dalam konferensi pers RDK OJK, Senin (6/4).
Meski demikian, pertumbuhan kredit sedikit melambat dibandingkan Januari 2026 yang tercatat 9,96% yoy. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 20,72% yoy. Sementara dari sisi debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi sebesar 14,74% yoy.
“Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 20,72%,” jelasnya.
Baca Juga: Pembiayaan Modal Ventura Tumbuh Tipis per Februari 2026, OJK Soroti Ini
Jika ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN mencatat pertumbuhan paling tinggi yakni 12,78% yoy.
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga Masih Solid
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. Per Februari 2026, DPK meningkat 13,18% yoy menjadi Rp 10.102 triliun.
“Dana pihak ketiga tumbuh sebesar 13,18% year-on-year menjadi Rp 10.102 triliun,” kata Dian.
Secara rinci, deposito mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 18,56% yoy, diikuti tabungan 13% yoy, dan giro 8,12% yoy.
Likuiditas dan Kualitas Kredit Masih Terjaga
Kondisi likuiditas industri perbankan juga dinilai memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat 121,29%, sementara rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,4%.
“Kedua rasio tersebut masih jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%,” imbuh Dian.
Selain itu, liquidity coverage ratio (LCR) berada pada level tinggi, yaitu 195,64%, mencerminkan ketahanan likuiditas perbankan.
Kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross tercatat 2,17%, sedangkan NPL net sebesar 0,83%.
“Secara umum kualitas kredit tetap terjaga,” ujar Dian.
Sementara itu, loan at risk (LAR) berada di level 9,24%, sedikit meningkat dibandingkan Januari 2026 yang tercatat 9,01%.
Profitabilitas dan Permodalan Perbankan Tetap Solid
Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) tercatat 2,37%, sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,49%. Di sisi permodalan, industri perbankan tetap kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,83%.
Baca Juga: OJK Catat 10 Fintech P2P Lending Belum Penuhi Ekuitas Minimum per Februari 2026
“Permodalan perbankan tetap kuat dan menjadi buffer mitigasi risiko yang memadai di tengah ketidakpastian global,” jelas Dian.
Optimisme terhadap kinerja perbankan juga tercermin dari Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SPPO) OJK. Pada triwulan I 2026, indeks orientasi bisnis perbankan (IBP) berada di zona optimistis.
Upaya Perkuat Industri Perbankan
Dalam rangka memperkuat industri, OJK meluncurkan dua publikasi terkait risiko iklim di sektor perbankan, yaitu Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA) dan Banking Sustainability Maturity Assessment Report (SMART).
Selain itu, sepanjang triwulan I 2026, OJK telah menerbitkan 12 izin penggabungan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) sebagai bagian dari konsolidasi industri. Langkah ini diharapkan memperkuat struktur industri perbankan nasional serta menjaga stabilitas sistem keuangan ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













