Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit investasi masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan kredit industri perbankan pada awal tahun ini. Perbaikan ekspektasi ekonomi dinilai menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan permintaan pembiayaan investasi.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan penyaluran kredit investasi pada Januari 2026 tumbuh 22,38% secara tahunan (year on year / YoY). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 yang tercatat sebesar 20,81% YoY.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan optimisme pelaku ekonomi mulai terlihat sejak akhir 2025 hingga awal 2026.
Menurutnya, ekspektasi konsumen meningkat setelah adanya kepastian sejumlah kebijakan pemerintah. Salah satunya terkait pernyataan Menteri Keuangan yang menyebutkan tidak akan ada kenaikan tarif pajak tertentu.
Baca Juga: Realisasi KPP BRI Capai Rp 2,3 Triliun hingga Februari 2026
Selain itu, berbagai program bantuan langsung kepada masyarakat juga turut mendorong daya beli sehingga aktivitas ekonomi menjadi lebih bergairah.
“Dengan ekspektasi masyarakat yang meningkat, aktivitas ekonomi lebih terdorong. Ini ikut memicu pertumbuhan kredit investasi karena masyarakat dan pelaku usaha kembali meningkatkan pengeluaran dan investasi,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (6/3/2026).
Huda menambahkan, perbaikan juga tercermin dari indikator sektor riil seperti PMI Manufaktur Indonesia yang kembali berada di zona ekspansif. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan pembiayaan investasi, khususnya untuk ekspansi sektor manufaktur.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan. Pada Februari hingga awal Maret 2026, muncul berbagai dinamika yang berpotensi memengaruhi sentimen ekonomi, mulai dari isu kerja sama perdagangan hingga kebijakan kenaikan tarif pajak kendaraan.
Menurutnya, dampak dari dinamika tersebut berpotensi mulai terasa pada periode April hingga Juni 2026. Meski begitu, aktivitas ekonomi pada Februari hingga Maret masih tertopang momentum Ramadan dan Idulfitri yang biasanya meningkatkan konsumsi masyarakat.
“Titik krusialnya ada di triwulan kedua. Apakah perbaikan ekonomi ini bersifat permanen atau hanya sementara,” kata Huda.
Di sisi lain, ketidakpastian global juga menjadi faktor yang perlu dicermati, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran. Kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi usaha.
Huda menilai perbankan perlu tetap selektif dalam menyalurkan kredit investasi agar kualitas aset tetap terjaga.
“Bank harus lebih cermat melihat potensi risiko karena jika ekspansi dilakukan terlalu agresif di tengah ketidakpastian, ada risiko kredit menjadi tidak berkualitas,” jelasnya.
Baca Juga: Ekonomi Global Bergejolak, BCA Waspadai Risiko Kredit Investasi
Sejumlah bank juga melaporkan kinerja kredit investasi yang masih bertumbuh pada awal tahun ini.
OK Bank Indonesia misalnya, mencatat penyaluran kredit investasi masih meningkat dibandingkan posisi akhir 2025. Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan kredit investasi perseroan naik sekitar 5%.
“Secara umum penyaluran kredit investasi OK Bank masih menunjukkan perkembangan positif,” ujarnya.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor perdagangan dan industri. Meski demikian, perseroan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian mengingat dinamika global dapat memengaruhi sentimen dunia usaha.
Sementara itu, Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatat pertumbuhan kredit investasi yang solid sepanjang 2025.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan kredit investasi BCA mencapai Rp 362,4 triliun atau tumbuh 13% YoY per Desember 2025.
“Kami melihat kinerja industri perbankan akan sejalan dengan kondisi perekonomian. Tren pertumbuhan kredit masih terjaga hingga saat ini,” ujar Hera.
Ia menambahkan BCA tetap mencermati dinamika makroekonomi domestik maupun global, termasuk eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah. Untuk mengantisipasi risiko, BCA terus memantau konsentrasi kredit, kualitas portofolio, serta menerapkan Early Warning System untuk mendeteksi potensi kredit bermasalah.
Pada 2025, pencadangan loan at risk (LAR) BCA tercatat sebesar 71,6%, sementara rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah (non-performing loan / NPL) mencapai 183,8%.
Baca Juga: OJK Awasi Khusus 7 Perusahaan Perasuransian dan 7 Dana Pensiun per Februari 2026
Adapun KB Bank Indonesia menyebut porsi kredit investasi saat ini mencapai sekitar 27% dari total portofolio kredit perseroan. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan pertumbuhan kredit investasi terutama didorong oleh segmen wholesale.
Pembiayaan tersebut banyak mengalir ke sektor-sektor strategis seperti pertambangan, transportasi, telekomunikasi, real estate, hingga jasa keuangan.
Dalam menyalurkan pembiayaan investasi, KB Bank juga memanfaatkan skema kredit sindikasi sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko dan optimalisasi permodalan.
“Kami tetap mengedepankan strategi penyaluran kredit yang prudent dan selektif dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik maupun dinamika global,” ujar Kunardy.
Ia menambahkan bank terus memantau sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan indikator makroekonomi serta mengevaluasi kecukupan permodalan, termasuk rasio capital adequacy ratio (CAR) terhadap potensi kenaikan NPL akibat guncangan eksternal.
Dengan langkah tersebut, KB Bank optimistis kualitas kredit tetap terjaga dan rasio NPL dapat berada pada level yang terkendali sepanjang tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













