Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak perekonomian global dan domestik dalam beberapa waktu terakhir turut berdampak pada industri asuransi jiwa, terutama dalam pengelolaan investasi di Surat Berharga Negara (SBN).
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai bahwa meskipun harga SBN mengalami tekanan akibat kenaikan yield, instrumen ini tetap menjadi pilihan utama bagi industri asuransi jiwa karena karakteristiknya yang sesuai dengan kebutuhan jangka panjang.
Direktur Eksekutif AAJI, Togar Pasaribu, mengatakan bahwa SBN masih menjadi instrumen strategis dalam portofolio investasi industri asuransi jiwa.
“Berdasarkan data AAJI, per 31 Desember 2024, penempatan investasi industri asuransi jiwa pada SBN mencapai Rp 205,03 triliun, atau 37,9% dari total portofolio investasi,” ungkap Togar kepada Kontan, Rabu (26/3).
Baca Juga: Ciputra Life Nilai Prospek SBN Masih Menarik, Tapi Ada Sejumlah Tantangan
AAJI memandang bahwa penurunan harga SBN saat ini merupakan bagian dari siklus pasar. Apakah tren ini hanya bersifat sementara atau akan berdampak dalam jangka panjang? Menurut Togar, ini bergantung pada berbagai faktor seperti kondisi makroekonomi global, kebijakan suku bunga, serta sentimen investor terhadap pasar obligasi dalam negeri.
Yang terpenting, industri asuransi jiwa perlu terus memperkuat strategi mitigasi risiko investasi dengan melakukan penyesuaian portofolio secara dinamis dan memastikan alokasi investasi tetap selaras dengan profil risiko perusahaan serta kepentingan pemegang polis.
Dalam menghadapi ketidakpastian pasar, AAJI merekomendasikan sejumlah strategi yang perlu diterapkan oleh perusahaan asuransi jiwa. Beberapa langkah utama yang dapat dilakukan antara lain diversifikasi portofolio agar tidak terlalu bergantung pada satu jenis instrumen, menyeimbangkan antara investasi jangka pendek dan jangka panjang untuk menjaga likuiditas, serta meningkatkan pemantauan risiko secara berkala guna menghadapi perubahan pasar yang cepat dan tidak terduga.
Industri asuransi jiwa juga harus tetap berkomitmen dalam menjaga stabilitas keuangan perusahaan, melindungi kepentingan pemegang polis, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan pasar keuangan nasional.
Baca Juga: Likuiditas Ketat, OJK Lihat Ada Potensi Bank Kurangi Kepemilikan SBN
Terkait prospek SBN ke depan, Togar menilai meski harga SBN saat ini masih tertekan, instrumen ini tetap menarik bagi investor institusi, termasuk industri asuransi jiwa.
“Karakteristik tenor jangka panjang SBN sangat sesuai dengan profil kewajiban jangka panjang industri asuransi jiwa,” ujar Togar.
Jika stabilitas makroekonomi Indonesia tetap terjaga dan pemerintah terus menunjukkan komitmen dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, permintaan terhadap SBN berpotensi meningkat. Hal ini pada akhirnya dapat mendorong pemulihan harga SBN dan memperkuat daya tariknya sebagai instrumen investasi jangka panjang bagi industri asuransi jiwa.
Selanjutnya: KAI Logistik Siap Layani Distribusi Barang Masyarakat pada Periode Arus Balik
Menarik Dibaca: 9 Rekomendasi Buah Penurun Gula Darah yang Tinggi dan Terbukti Efektif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News