kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.807.000   -30.000   -1,06%
  • USD/IDR 17.017   26,00   0,15%
  • IDX 7.091   -6,11   -0,09%
  • KOMPAS100 978   1,01   0,10%
  • LQ45 718   -0,60   -0,08%
  • ISSI 252   2,61   1,04%
  • IDX30 389   -2,35   -0,60%
  • IDXHIDIV20 489   0,54   0,11%
  • IDX80 110   0,33   0,30%
  • IDXV30 136   1,81   1,34%
  • IDXQ30 127   -0,82   -0,64%

Mencermati Peluang Usaha dari Profesi Tenaga Pemasar Asuransi


Senin, 30 Maret 2026 / 13:22 WIB
Mencermati Peluang Usaha dari Profesi Tenaga Pemasar Asuransi
ILUSTRASI. Prudential Syariah (Dok/Prudential Indonesia)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keinginan memiliki usaha sendiri sering terhambat masalah modal. Banyak orang menahan diri setelah menghitung biaya sewa, stok barang, promosi, hingga risiko rugi di awal. Sementara itu, dunia kerja bergerak semakin dinamis, dan pilihan karier kini tidak lagi terpaku pada jalur konvensional, jam kerja kaku, atau struktur organisasi. 

Menurut Raka Rosadi Putra, agency builder Prudential Syariah, profesi tenaga pemasar dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin memulai usaha dengan risiko dan kebutuhan modal yang relatif rendah.

Ia menilai peluang tenaga pemasar di sektor asuransi syariah memiliki risiko rendah tapi potensi profit yang cukup. Itu sebabnya, ia memilih menjadi tenaga pemasar di Prudential Syariah, dibanding opsi lain yang lebih berisiko.

 “Dari beberapa opsi, Prudential Syariah itu awalnya pilihan terakhir. Tapi setelah saya eliminasi berdasarkan risiko dan peluangnya, justru ini yang paling ideal buat saya,” kata Raka dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).

Baca Juga: OJK Sebut Implementasi QR Code Agen Asuransi Berjalan Baik

Indonesia sebenarnya memiliki modal demografi yang kuat, dengan Generasi Z sekitar 74,93 juta jiwa dan milenial sekitar 69,38 juta jiwa, artinya lebih dari separuh penduduk berada di usia produktif yang aktif mencari peluang dan membangun karier. Namun, akses terhadap peluang nyata masih diperlukan. 

Pemerintah mendorong kenaikan rasio kewirausahaan, yang menurut data Kementerian UMKM mencapai 3,29% pada 2025. Meski meningkat, angka ini menunjukkan perlunya lebih banyak orang didorong untuk berani memulai, termasuk dari peluang yang tidak membutuhkan modal besar.

Raka bilang, profesi tenaga pemasar ini kerap dipandang sebelah mata, padahal sejatinya sangat dekat dengan semangat wirausaha. Tenaga pemasar membangun portofolio dan relasi, menyusun target, serta mengatur waktunya sendiri. Fleksibilitas dan peluang berkembang menjadi alasan banyak orang memilih jalur ini.

“Di industri asuransi, tenaga pemasar tak sekadar menjelaskan produk, tetapi juga mendampingi masyarakat memahami perencanaan keuangan dan mengambil keputusan finansial penting,” lanjutnya. 

Baca Juga: AAJI Yakin Agen Asuransi Tak Bisa Digantikan Artificial Intelligence (AI)

Kebutuhan edukasi ini masih besar. Pasalnya, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mencatat literasi keuangan syariah 43,42% dan inklusi 13,41%. Tenaga pemasar profesional berperan membantu orang mengambil keputusan lebih terencana, bukan sekadar mencari penjualan.

Prestasi mereka pun diakui industri. Tenaga pemasar Prudential Syariah, misalnya, meraih enam penghargaan di Sharia Insurance Convention and Awards (SICA) 2025, termasuk The Best of The Best Sharia Agent. Ini menunjukkan jalur karier yang jelas, dari pembekalan hingga peluang berprestasi. 

Selain penghasilan, profesi ini juga memberikan dampak nyata, seperti mendampingi peserta saat klaim atau musibah, sebagaimana Raka yang sejak 2022 menangani klaim hingga miliaran rupiah.

Raka menyebut, bisnis ini sebenarnya tidak menuntut modal besar, melainkan konsistensi untuk memulai, seperti belajar, membangun jaringan, mengatur waktu dengan disiplin, dan selalu mengutamakan kebutuhan orang yang dilayani. 

Ia menekankan pentingnya mengetahui apakah seseorang memiliki mimpi dan bagaimana cara mencapainya. “Jika masih ragu, sebaiknya membuka diri untuk belajar dan melihat peluang dari perspektif baru. Menurutnya, kerja keras harus selalu disertai kerja cerdas di tempat yang tepat.” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×