Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang akhir tahun, industri asuransi umum dan reasuransi memasuki periode krusial terkait perpanjangan premi.
Periode ini menjadi peluang penting bagi pemain industri untuk meningkatkan pendapatan premi, meskipun tantangan signifikan juga membayangi, seperti lemahnya daya beli masyarakat dan rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% pada 2025.
Baca Juga: Asuransi Jasindo Catat Pertumbuhan Premi 26,47%, Kinerjanya Tembus Rp 2,95 Triliun
PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menyampaikan bahwa mereka telah menerapkan berbagai strategi untuk mempertahankan loyalitas nasabah di tengah dinamika industri.
Direktur Pengembangan Bisnis Jasindo Diwe Novara menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan meliputi peningkatan penanganan klaim serta pelaksanaan program customer retention yang berfokus pada menciptakan pengalaman pelanggan yang optimal.
“Permintaan harga yang lebih rendah dari nasabah akan selalu ada di seluruh sektor. Namun, untuk asuransi umum, tarif telah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga perusahaan asuransi perlu memberikan pemahaman kepada nasabah terkait ketetapan tarif tersebut,” ujar Diwe, Selasa (19/11).
Hingga saat ini, Jasindo mencatat premi sebesar Rp 2,953 triliun, meningkat 26,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,335 triliun.
Di tahun depan, Jasindo berencana memperluas fokus tidak hanya pada induk perusahaan nasabah, tetapi juga anak perusahaan, vendor, karyawan, dan pelanggan melalui skema B2B2C.
Baca Juga: Sejumlah Asuransi Umum Catatkan Kinerja Positif pada Kanal Digital, Ini Strateginya
Sementara itu, PT Reasuransi Maipark Indonesia (Maipark) juga tetap optimistis menghadapi tantangan industri, termasuk rencana kenaikan PPN menjadi 12%.
Menurut Direktur Utama Maipark, Kocu Andre Hutagalung, kesadaran akan risiko bencana tetap menjadi prioritas masyarakat, terutama di wilayah rawan bencana.
“Kami melihat setiap tantangan sebagai peluang untuk bertransformasi. Permintaan penurunan premi adalah kesempatan untuk merancang ulang pendekatan proteksi risiko yang lebih efisien,” jelas Kocu.
Perusahaan berkomitmen untuk menciptakan solusi reasuransi yang tidak hanya kompetitif dari segi biaya, tapi juga bisa memberikan nilai tambah bagi setiap mitra bisnisnya,
"Melalui analisis mendalam, kami merancang perlindungan yang disesuaikan dengan profil risiko bencana industri," ujarnya.
Baca Juga: Perkuat Industri, Perusahaan Reasuransi Adakan Forum Diskusi dan Persiapkan Asosiasi
Pada Oktober 2024, Maipark mencatat pendapatan premi sebesar Rp 281,25 miliar, naik 13,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 247,38 miliar.
Untuk tahun depan, Maipark akan mengintegrasikan teknologi AI dan analisis data guna menciptakan model perlindungan yang lebih prediktif dan responsif terhadap risiko bencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News