kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

NPL pertambangan di luar Jawa capai dua digit


Senin, 17 November 2014 / 11:35 WIB
ILUSTRASI. Link Twibbon Hari Lahir Pancasila 2023 dan Cara Mudah Membagikannya


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Sejumlah wilayah Indonesia mencatat kenaikan kredit bermasalah pada sektor pertambangan dan penggalian. Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan, perlambatan ekonomi di Amerika Serikat (AS), China dan negara-negara Eropa membuat permintaan terhadap komoditas menurun. Alhasil, harga komoditas pun terpangkas.

Kondisi itu mengganggu kelancaran dari sektor pertambangan yang pada akhirnya menyebabkan kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). BI mencatat, wilayah Indonesia yang mencatat NPL tinggi pada sektor pertambangan adalah wilayah Sumatera dan Kalimantan, dibandingkan wilayah Jawa yang mencatat NPL masih satu digit.

“Memang ada beberapa daerah tertentu yang NPL-nya sudah mencapai 10%,” kata Halim, kemarin. Mengutip Statistik Perbankan Indonesia (SPI) per Agustus 2014, rasio NPL pertambangan dan penggalian untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan tercatat tumbuh dua digit.

Misalnya, NPL pertambangan dan penggalian untuk wilayah Sumatera Selatan 16,22%, Kalimantan Barat 17,52%, Kalimantan Tengah 16,66%, Sulawesi Selatan 18,8%, Nusa Tenggara Barat 46,6%, dan Bali 86,56%. Sedangkan, total rasip NPL keseluruhan pertambangan dan penggalian sebesar 2,47%.

Kelompok bank besar seperti bank BUKU 3 dan BUKU 4 paling banyak menyalurkan kredit ke sektor komoditas. Menurutnya, kelompok bank ini mampu memitigasi risiko kredit sektor komoditas, sehingga regulator tidak terlalu khawatir terhadap kenaikan NPL.

Jika terjadi NPL pada bank BUKU 3 dan BUKU 4, memburuknya kondisi bank tersebut tidak secepat terjadi NPL di BUKU 1 dan BUKU 2. “Rasio NPL komoditas di bank besar masih di bawah 1%,” ucapnya.

Halim memprediksi, harga komoditas ke depan belum akan pulih seiring ekonomi dunia yang belum membaik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×