Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai terdapat ruang yang sangat besar untuk memperluas perlindungan hari tua, seiring besarnya jumlah masyarakat yang akan memasuki usia pensiun.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menerangkan hal itu dipicu proporsi penduduk yang sudah memasuki kategori lanjut usia telah mencapai 11,97% pada 2025. Angkanya melampaui ambang 10% yang umum digunakan sebagai kategori menua atau aging population.
"Ke depan trennya akan makin kuat, dengan proyeksi proporsi penduduk lanjut usia mencapai 20,31% pada 2045," ujarnya dalam acara Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2026).
Selain itu, Friderica menyebut Indonesia juga memiliki penduduk dengan usia produktif mencapai 68,94% terhadap total penduduk. Dia bilang hal itu juga bisa menjadi peluang bagi dana pensiun untuk mendorong masyarakat usia produktif menjadi peserta.
Baca Juga: Kondisi Dana Pensiun BUMN Beragam, Ini Kata OJK
"Artinya, kami memiliki jendela kesempatan yang sangat penting dalam mendorong masyarakat usia produktif untuk mulai mempersiapkan masa pensiun sejak dini, sebelum tekanan demografi akan makin besar," tuturnya.
Dari sisi industri, Friderica menerangkan perkembangan dana pensiun juga menunjukkan tren yang sangat positif. Dia bilang jumlah peserta di industri dana pensiun terus meningkat dari 27,27 juta orang pada 2022, menjadi 30,67 juta orang per Juli 2026.
Sementara itu, dia menyebut total aset juga terus tumbuh dari 1.269 triliun pada 2022 menjadi sebesar Rp 1.699 triliun per Juli 2026.
Meski dari sisi peserta terus tumbuh, Friderica menyoroti belum sepenuhnya angkatan kerja memiliki perlindungan hari tua. Dia bilang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angkatan kerja di Indonesia berjumlah 154,91 juta orang per Februari 2026.
"Satu sisi memang terus tumbuh, tetapi kalau melihat dari presentase dengan jumlah angkatan kerja yang saat ini sudah lebih dari 150 juta, tentunya presentasenya masih sangat kecil," ucapnya.
Baca Juga: Bank Jakarta dan PT SMI Kucurkan Rp 2,11 Triliun untuk 7 Proyek Infrastruktur Jakarta
Oleh karena itu, Friderica optimistis ruang pertumbuhan industri dana pensiun masih terbuka lebar ke depannya. Hal itu juga ditandai dengan replacement ratio Indonesia yang masih berada di level 15%-20%, atau masih di bawah standard International Labour Organization yang sebesar 40%.
"Hal itu rasanya juga patut dijadikan sebagai pedoman dalam upaya meningkatkan replacement ratio di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat nanti bisa pensiun dengan replacement ratio yang makin meningkat. Angka itu juga menunjukkan bahwa manfaat pensiun yang diterima banyak pekerja belum cukup untuk mempertahankan standar hidup setelah memasuki masa pensiun," kata Friderica.
Lebih lanjut, Friderica juga mengungkapkan selain memperluas kepesertaan, dana pensiun juga didorong meningkatkan kecukupan dari manfaat industri. Oleh karena itu, dia bilang berbagai upaya penguatan sistem dana pensiun menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga financial health, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat di usia lanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














