Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menjadi perhatian industri multifinance. Selain berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan berbasis impor, depresiasi rupiah juga dinilai dapat memengaruhi permintaan pembiayaan dan kualitas pembiayaan kendaraan bermotor.
Chief Financial Officer PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) Gani mengatakan pelemahan rupiah merupakan salah satu faktor yang perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi daya beli dan keputusan pembelian sebagian konsumen.
“Pelemahan nilai tukar Rupiah merupakan salah satu faktor yang perlu dicermati karena berpotensi mendorong penyesuaian harga kendaraan, khususnya untuk model yang memiliki komponen impor. Kondisi tersebut dapat memengaruhi daya beli dan keputusan pembelian sebagian konsumen,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (29/5).
Baca Juga: Klaim dan Manfaat Asuransi Jiwa Capai Rp 38,73 Triliun pada Kuartal I-2026
Namun, Gani menilai dampak pelemahan rupiah tidak selalu berlangsung secara langsung dan merata di seluruh segmen pasar karena dipengaruhi oleh jenis kendaraan, skema pembiayaan, profil konsumen, hingga kebutuhan masing-masing konsumen.
Menurutnya, risiko terhadap kualitas pembiayaan juga perlu diantisipasi apabila kenaikan harga kendaraan terjadi bersamaan dengan tekanan daya beli, kenaikan biaya hidup, dan meningkatnya biaya operasional.
Hingga April 2026, Adira Finance telah menyalurkan pembiayaan kendaraan bermotor sebesar Rp 11,3 triliun. Pembiayaan tersebut berasal dari segmen roda empat dan roda dua yang masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Pandangan serupa disampaikan Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman. Ia menilai pelemahan rupiah dalam jangka pendek berpotensi memberikan tekanan terhadap industri pembiayaan kendaraan, terutama dari sisi permintaan pembiayaan.
“Pelemahan rupiah secara jangka pendek berpotensi memberikan dampak terhadap industri pembiayaan, khususnya pada permintaan pembiayaan kendaraan yang mungkin akan mengalami perlambatan,” katanya.
Ristiawan menambahkan kenaikan harga kendaraan juga dapat memberikan tekanan terhadap permintaan pembiayaan sekaligus meningkatkan risiko kualitas pembiayaan apabila kemampuan bayar nasabah ikut terpengaruh.
Kendati menghadapi berbagai tantangan, CNAF masih memperkirakan pembiayaan kendaraan dapat bertumbuh secara moderat hingga akhir tahun. Untuk itu, perusahaan berfokus pada nasabah dengan profil risiko yang baik sembari memperkuat pengawasan terhadap kualitas portofolio.
Hingga April 2026, penyaluran pembiayaan baru CNAF untuk kendaraan roda empat, baik kendaraan baru maupun bekas, tercatat mencapai Rp 1,97 triliun.
Sementara itu, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) masih melihat peluang pertumbuhan pembiayaan kendaraan bermotor hingga akhir tahun meski volatilitas rupiah masih berlanjut.
Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani mengatakan pelemahan rupiah dapat berdampak pada industri pembiayaan kendaraan melalui penyesuaian harga kendaraan, terutama yang memiliki kandungan impor tinggi.
“Pelemahan nilai tukar Rupiah berpotensi memengaruhi industri pembiayaan kendaraan melalui penyesuaian harga kendaraan, khususnya yang memiliki kandungan impor tinggi, sehingga dapat berdampak pada daya beli dan permintaan pembiayaan,” ujarnya.
Ramadhani menilai permintaan pembiayaan kendaraan masih cukup resilien. Menurutnya, perusahaan terus melakukan langkah antisipatif melalui penerapan prinsip kehati-hatian, penguatan kualitas portofolio, serta penyesuaian strategi bisnis agar tetap adaptif terhadap dinamika pasar dan kondisi ekonomi.
Dari sisi kualitas pembiayaan, BRI Finance mencatat rasio non-performing financing (NPF) sebesar 2,40% per April 2026, masih berada dalam batas yang ditetapkan regulator. Pada periode yang sama, kontribusi pembiayaan mobil baru terhadap total portofolio mencapai 34,75%, sedangkan pembiayaan mobil bekas sebesar 8,82%.
Ramadhani menilai prospek pembiayaan kendaraan bermotor hingga akhir tahun masih cukup baik seiring kebutuhan mobilitas masyarakat dan permintaan kendaraan yang tetap terjaga, khususnya pada segmen tertentu.
Dalam menghadapi volatilitas rupiah, perusahaan berupaya memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas portofolio pembiayaan, serta menyesuaikan strategi bisnis secara adaptif sesuai kondisi pasar dan kemampuan konsumen.
Baca Juga: Asippindo Sebut Dinamika Perekonomian Dorong Peningkatan Porsi Penjaminan Konsumtif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












