kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45729,74   -6,98   -0.95%
  • EMAS963.000 3,44%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Sasar pasar luar negeri, P2P lending Indonesia tunggu restu regulator setempat


Senin, 23 Desember 2019 / 16:36 WIB
Sasar pasar luar negeri, P2P lending Indonesia tunggu restu regulator setempat
ILUSTRASI. Petugas menata brosur Inveatree Syariah di Jakarta, Selasa (3/4). Sasar pasar luar negeri, P2P lending Indonesia tunggu restu regulator setempat. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/03/04/2018

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan peer to peer (P2P) lending Indonesia mantap memandang bisnis tahun depan. Tidak hanya mengejar pertumbuhan organik, kini beberapa perusahaan P2P lending gencar merambah pasar luar negeri.

PT Pendanaan Teknologi Nusa sebagai pemegang izin usaha peer to peer lending platform KTA Kilat akan memasuki pasar India. Co-Founder dan Chief Executive Officer Pendanaan Dino Martin bilang saat ini tengah melakukan proses registrasi di regulator setempat.

Baca Juga: Fintech dan tren transaksi digital, bagaimana upaya bank menghadapi disrupsi?

“Untuk India kita masih proses registrasi. Sama dengan Otoritas Jasa Keuangan di Indonesia, pemilik baru harus registrasi ke regulator setempat,” ujar Dino kepada Kontan.co.id pada Selasa (23/12).

Dino bilang saat memasuki pasar India, Pendanaan mengakuisisi pemain fintech peer to peer lending setempat. Dino juga mengganti perusahaan tersebut dengan nama Monexia.

“Bentuknya sama fintech peer to peer lending. Masuknya juga mulai dari pinjaman multiguna dulu, baru setelah itu produktif. Strateginya sama dengan super lender,” jelas Dino.

Dino bilang alasan memilih India lantaran memiliki inklusi keuangan yang rendah. Sedangkan penggunaan smartphone dan internet yang tinggi.

Baca Juga: Fitur pay later dari fintech tak mengganggu bisnis perbankan

“Dua hal ini memberikan kombinasi yang bagus untuk sebuah fintech untuk sukses. Seperti di Indonesia inklusi keuangan masih di bawah 5%, sedangkan penggunaan smartphone sudah masuk 70 juta orang. India juga sama seperti kita. Makanya Pendanaan berani masuk ke sana,” jelas Dino.

Adapun alasan Pendanaan menggarap segmen multiguna dahulu agar bisa masuk ke pasar lebih cepat. Lantaran segmen ini bisa memberikan pinjaman dengan cepat. Sehingga data akan lebih cepat masuk dan besar. Tujuannya machine learning untuk mitigasi risiko bisa mengolah data.

Tak mau kalah, PT Investree Radhika Jaya juga menjajaki pasar Vietnam dengan skema akuisisi. Co-Founder & CEO Investree Adrian Gunadi bilang tengah membidik pasar Vietnam. Selain itu, mulai tahun depan Investree akan menjalankan bisnis di Filipina. Adrian bilang strategi di pasar baru masih tetap menggarap pinjaman bagi pelaku UMKM.

“Kami sedang finalisasi di Filipina, mudah-mudahan bulan ini kami bisa tanda tangan join venture partnership-nya di sana. Jadi awal tahun depan bisa live. Produknya sama dengan kami, UMKM, supply chain, dan solusi e-procurement. Kapan Vietnam siap, kita ke sana, namun belum ada regulasinya,” jelas Adrian.

Sebenarnya Investree sudah memiliki 10% saham di salah satu pelaku peer to peer lending di Vietnam yakni Eloan. Namun, di negeri itu regulasinya masih digodok. Ia ingin memperbesar porsi saham Investree di perusahaan itu hingga menjadi pemegang saham kendali.

Baca Juga: Bisnis kartu kredit bank masih kebal dari gencarnya fitur pay later dari fintech

“Kita sudah masuk disana, tapi kepemilikan saham kita masih 10%. Kalau regulasinya clear, maka jelas asing boleh masuk berapa, nah itu yang kita tunggu. Di sana kita jalan sebagai Eloan, bukan sebagai Investree makanya angkanya tidak kita masukan ke dalam konsolidasi kita,” jelas Adrian.

Selain itu, Investree juga sudah bersiap menjajaki pasar Thailand. Ia mengaku tengah mengajukan izin daftar kepada regulator setempat. Ia berharap pada kuartal pertama 2020, Investree sudah siap menyalurkan pinjaman di Thailand. Lantaran tim Investree di Thailand sudah siap.

Begitupun dengan PT Kredit Pintar Indonesia yang juga berminat memperluas pasar di kawasan Asia Tenggara. Boan Sianipar, Vice President Kredit Pintar mengatakan Kredit Pintar tengah mengkaji untuk ekspansi beberapa negara di Asia Tenggara untuk bisnis pinjam meminjam keperluan multiguna.

“Kami mencari negara yang mirip kondisinya dengan Indonesia, yang fintech lain sudah masuk duluan, dan secara regulasi sudah jelas," ujar Boan.

Nantinya nama perusahaan di pasar baru akan disesuaikan dengan negara yang dituju alias tidak menggunakan nama Kredit Pintar. Namun tetap menggunakan bisnis model yang sama dengan di Indonesia yakni menyasar pinjaman konsumtif alias multiguna terlebih dahulu.

Baca Juga: Fintech pertanian dinilai masih potensial untuk berkembang

Sebelumnya Chief Executive Officer (CEO) Kredit Pintar Wisely Wijaya mengatakan pihaknya sudah mempelajari pasar Filipina sejak akhir tahun lalu.

Wisely mengaku sudah mendapatkan izin dari regulator setempat untuk menjalankan bisnis ini di Filipina. Adapun strategi yang dilakukan dengan menggandeng mitra lokal.

“Terkait ekspansi, sebenarnya dalam waktu tidak lama kami akan melakukan meluncurkan sesuatu. Nanti ada waktunya, kami sebutnya tidak satu, tapi tiga,” tutur Wisely. Sayangnya Ia belum mau merinci nama dari tiga negara ini.


Tag


TERBARU

Close [X]
×