kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   -1.000   -0,03%
  • USD/IDR 16.791   2,00   0,01%
  • IDX 8.980   4,90   0,05%
  • KOMPAS100 1.240   -4,48   -0,36%
  • LQ45 876   -6,31   -0,72%
  • ISSI 331   0,57   0,17%
  • IDX30 444   -6,39   -1,42%
  • IDXHIDIV20 519   -14,10   -2,64%
  • IDX80 138   -0,67   -0,49%
  • IDXV30 144   -3,64   -2,47%
  • IDXQ30 142   -2,84   -1,95%

Simpanan Nasabah Kaya di Perbankan Kian Meroket


Selasa, 27 Januari 2026 / 20:57 WIB
Simpanan Nasabah Kaya di Perbankan Kian Meroket
ILUSTRASI. ilustrasi suku bunga (KONTAN/Muradi)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Simpanan nasabah jumbo perbankan terlihat kian melesat, ini seiring nasabah kelas atas yang masih menahan dananya di perbankan sebagai langkah aman di tengah risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan jumlah tabungan nasabah dengan nilai nominal di atas Rp 5 miliar mengalami kenaikan signifikan sebesar 22,76% secara tahunan.

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution mengatakan, lonjakan tersebut salah satunya didorong oleh kebijakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang menempatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah pada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Baca Juga: Bank Aladin Syariah Perkuat Layanan Nasabah Pensiun

“Ini mungkin akan juga dipengaruhi dikontribusi adanya penempatan dana SAL pemerintah ya, SAL pemerintah itu mungkin presentasinya cukup tinggi,” kata Farid di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, kenaikan simpanan terjadi pada kelompok nasabah dengan dana besar, sedangkan simpanan di bawah Rp100 juta justru tertekan.

"Situasi tersebut memaksa bank memberikan special rate atau bunga deposito yang lebih mahal untuk menarik dana besar. Akibatnya, biaya dana perbankan ikut meningkat. Ini bisa menjadi pertanda semakin sulitnya bank mencari dana-dana murah,” kata Bhima.

Menurut Bhima, deposan besar cenderung menuntut imbal hasil tinggi, sehingga bank mau tidak mau harus menyesuaikan bunga simpanan. Di sisi lain, kemampuan kelompok menengah ke bawah untuk menabung semakin terbatas seiring melemahnya daya beli.

Bhima menjelaskan, kondisi ekonomi saat ini mendorong nasabah kelas atas untuk menahan dana di perbankan sebagai langkah aman di tengah risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan. “Mereka memilih bermain aman, antara menempatkan dana di emas atau deposito,” ujarnya.

Sebaliknya, kelompok masyarakat bawah menghadapi tekanan dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan efisiensi anggaran. Bhima mencatat, angka PHK di sektor pekerjaan formal meningkat sekitar 10% sepanjang 2025, yang berdampak besar pada kelompok menengah ke bawah.

Jika ketimpangan ini terus berlanjut, Bhima mengingatkan adanya potensi risiko lanjutan. “Ini bisa menjadi indikator ketimpangan yang makin melebar dan dikhawatirkan memicu gejolak sosial maupun politik jika dibiarkan,” kata dia.

Baca Juga: OJK: Kredit Perbankan Tumbuh 9,6% pada 2025, Risiko dan Likuiditas Tetap Terjaga

Dari sisi perbankan, kondisi ini menandai berakhirnya era dana murah. Bank dituntut lebih kreatif dalam memperluas basis tabungan. Salah satu strategi yang dinilai krusial adalah menggenjot pembukaan rekening baru, terutama dari pelaku usaha baru dan segmen UMKM.

Selain itu, bank juga perlu menghadirkan produk inovatif serta menggandeng platform digital dan e-commerce untuk memperluas akses pembukaan rekening. “Cara-cara ini harus dilakukan agar dana murah tetap tersedia,” ujar Bhima.

Ia menegaskan, tanpa upaya serius mencari sumber dana murah baru, perbankan berisiko menghadapi kenaikan biaya bunga yang makin besar, yang pada akhirnya akan menekan kinerja dan margin keuntungan bank ke depan.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan agresif pada segmen nasabah kaya dengan dana kelolaan di atas Rp5 miliar sepanjang 2025. Kenaikan ini menegaskan penguatan bisnis wealth management BNI di tengah persaingan perbankan yang semakin ketat.

General Manager Divisi Wealth Management BNI Henny Eugenia mengungkapkan, pada 2025 dana pihak ketiga (DPK) dari nasabah dengan aset kelolaan di atas Rp5 miliar tumbuh lebih dari 20% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut didominasi oleh produk tabungan, bahkan mencatatkan persentase kenaikan tertinggi pada segmen private banking.

“Pertumbuhan segmen Rp 5 miliar di BNI sangat agresif. Ini ditopang oleh kolaborasi yang semakin erat antara consumer banking dan business banking, inovasi produk dan program, serta dukungan tim sales yang semakin militan,” ujar Henny.

Dari sisi jumlah nasabah, BNI juga mencatatkan pertumbuhan solid. Jumlah nasabah dengan asset under management (AUM) di atas Rp 5 miliar meningkat lebih dari 15% yoy, sementara jumlah nasabah private banking dengan AUM di atas Rp15 miliar melonjak sekitar 25% yoy. Pencapaian ini sekaligus memperkuat positioning BNI Private di industri wealth management dengan tagline “BNI Private, Beyond Wealth.”

Baca Juga: AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending akan Meningkat Menjelang Ramadan

Untuk memperkuat engagement, BNI Private juga aktif menggelar berbagai kegiatan eksklusif, mulai dari intimate event, pembentukan next generation community, hingga golf clinic dan networking. Program ini dirancang sebagai wadah pengembangan potensi bisnis kreatif dengan perspektif global.

Berdasarkan komposisi nasabah, Henny menyebut dana dari nasabah non-perorangan masih mendominasi dengan porsi lebih dari 60%. Meski demikian, pertumbuhan segmen ritel menunjukkan akselerasi signifikan, khususnya pada produk tabungan.

Ke depan, BNI menargetkan pertumbuhan simpanan segmen nasabah kaya yang lebih tinggi dibandingkan capaian di 2025 lalu. “Sejalan dengan semangat BNI untuk terus bertumbuh dan meningkatkan market share, kami menargetkan pertumbuhan yang jauh lebih tinggi di tahun ini,” katanya.

Dari sisi strategi, BNI tidak hanya mengandalkan nasabah existing, tetapi juga agresif mengakuisisi nasabah baru (new to bank), khususnya key person dan top management dari debitur korporasi, menengah, dan ritel, termasuk dalam ekosistem value chain. BNI juga menyiapkan Emerald Acquisition Relationship Manager (RM) yang fokus pada peningkatan jumlah nasabah melalui penguatan kolaborasi dengan tim business banking.

Selain itu, inovasi produk dan program menjadi kunci utama. Melalui Program Welcome Emerald & Private, BNI menawarkan reward hingga Rp26 juta bagi nasabah yang bergabung dan menempatkan dana fresh fund di BNI. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat posisi BNI sebagai main bank bagi nasabah segmen kaya serta menjaga pertumbuhan dana kelolaan yang berkelanjutan.

Adapun Direktur International Wealth and Premier Banking HSBC Indonesia Lanny Hendra mengaku pertumbuhan simpanan nasabah jumbo memang tumbuh positif, sejalan dengan tren pada berbagai produk yang ditawarkan bank. 

“Sampai dengan akhir 2025 pertumbuhan nasabah kaya di HSBC masih sangat baik. Kami juga melihat pertumbuhan yang konsisten pada produk-produk kami, yang meliputi deposito dan produk investasi termasuk bancassurance,” papar Lanny. 

Baca Juga: LPS Imbau Bank Turunkan Suku Bunga Simpanan

Menurutnya, tren positif pada simpanan nasabah kaya pada dasarnya mengindikasikan prioritas diversifikasi produk dalam portofolio nasabah. Kedepan, ia berharap pertumbuhan tetap berlangsung positif sebagaimana posisi solid HSBC Indonesia di segmen affluent. 

Selanjutnya: Sudah Tidak Rugi, Boeing Mencatatkan Laba Bersih US$ 8,22 miliar di Kuartal IV-2025

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026: 3 Ganda Indonesia ke 16 Besar, Segel 1 Tiket 8 Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×