kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.956.000   -17.000   -0,57%
  • USD/IDR 16.845   66,00   0,39%
  • IDX 8.104   -42,84   -0,53%
  • KOMPAS100 1.140   -5,81   -0,51%
  • LQ45 829   -3,44   -0,41%
  • ISSI 285   -2,28   -0,79%
  • IDX30 433   -0,67   -0,15%
  • IDXHIDIV20 521   1,04   0,20%
  • IDX80 127   -0,56   -0,44%
  • IDXV30 142   0,14   0,10%
  • IDXQ30 140   0,20   0,14%

Target Investasi EBT Rp 1.682 Triliun Buka Peluang Besar bagi Industri Asuransi Umum


Kamis, 05 Februari 2026 / 22:15 WIB
Target Investasi EBT Rp 1.682 Triliun Buka Peluang Besar bagi Industri Asuransi Umum
ILUSTRASI. Kementerian ESDM targetkan investasi EBT Rp 1.682 T. Ini kesempatan emas bagi asuransi umum, namun ada tantangan besar yang harus diatasi. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan nilai investasi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia mencapai Rp 1.682 triliun dalam 10 tahun ke depan.

Target ambisius ini sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang menempatkan EBT sebagai tulang punggung transisi energi nasional.

Besarnya aliran investasi tersebut dinilai membuka peluang signifikan bagi industri asuransi umum, terutama dalam penyediaan perlindungan risiko pada proyek-proyek EBT yang terus bertumbuh dari sisi nilai maupun kompleksitas.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) melihat geliat investasi di sektor EBT akan mendorong kebutuhan asuransi yang semakin besar, baik pada fase konstruksi maupun saat proyek telah beroperasi.

"Sepanjang realisasi investasi berjalan sesuai rencana, kebutuhan asuransi akan tumbuh seiring meningkatnya nilai dan kompleksitas aset energi yang dikembangkan," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (5/2/2026).

Baca Juga: AAUI Catat Premi Reasuransi Tumbuh 11% pada Kuartal III Tahun 2025

Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan, setiap proyek EBT memerlukan perlindungan risiko yang komprehensif karena melibatkan teknologi, infrastruktur, dan nilai investasi yang besar. Namun, saat ini cakupan asuransi untuk aset-aset EBT di Indonesia dinilai belum sepenuhnya merata.

Ia menyebutkan bahwa perlindungan asuransi masih terkonsentrasi pada aset energi berbasis onshore dan proyek-proyek yang secara teknologi relatif lebih mapan. Sementara itu, proyek dengan teknologi baru atau lokasi yang lebih kompleks masih menghadapi sejumlah tantangan dalam penjaminan risiko.

Terkait belum meratanya perlindungan aset EBT, Budi menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi beberapa kendala, mulai dari keterbatasan data historis risiko, kompleksitas teknis proyek, hingga penyesuaian kapasitas dan pricing reasuransi.

"Meskipun demikian, industri asuransi terus meningkatkan pemahaman risiko dan kapasitas underwriting secara bertahap," tuturnya.

Secara keseluruhan, AAUI memandang sektor energi, termasuk EBT, akan tetap menjadi salah satu kontributor utama bagi pertumbuhan industri asuransi umum, selama pengembangannya dilakukan secara prudent dan terukur.

Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa porsi terbesar dari target investasi jumbo tersebut diharapkan berasal dari sektor swasta.

Baca Juga: AAUI Ungkap Tantangan Permodalan Asuransi Umum Jelang Aturan Ekuitas Minimum 2026

Sebagai informasi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa sekitar 70% dari total target investasi akan berasal dari pelaku usaha swasta.

"Waktu Pak Menteri mengeluarkan keputusan Menteri untuk RUPTL 10 tahun dan diharapkan investasi sampai Rp 1.682 triliun, sebesar 70%-nya dari swasta," kata Eniya saat acara di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026).

Menurut Eniya, komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan EBT semakin kuat, terutama setelah terbitnya Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 10 Tahun 2025 yang menjadi landasan percepatan transisi energi nasional.

Selanjutnya: Menko Airlangga Buka Suara soal Outlook Negatif Moody’s, Apa Katanya?

Menarik Dibaca: Net Worth vs Gaji: Kenapa Orang Kaya Fokus Kekayaan Bersih, Bukan Penghasilan?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×