Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi reasuransi pada bulan November 2025 mencapai sekitar Rp35,1 triliun, terkoreksi tipis dari periode yang sama di tahun sebelumnya yaitu Rp35,7 triliun.
Kendati demikian, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menyampaikan pada periode Triwulan III 2025, kinerja premi reasuransi menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.
AAUI mencatat premi reasuransi umum pada kuartal tersebut meningkat dari sekitar Rp13,09 triliun menjadi Rp14,53 triliun atau tumbuh kurang dari 11%.
"Kenaikan ini mencerminkan pemulihan volume bisnis secara bertahan, meski berlangsung di tengah kondisi pasar reasuransi yang masih soft," ujar Ketua Umum AAUI, Budi Hermawan kepada Kontan, Kamis (5/2/26).
Baca Juga: Premi Reasuransi Kendaraan Bermotor Turun ke Rp 330 Miliar hingga November 2025
Dari sisi penopang, Budi menjelaskan bahwa pertumbuhan premi didorong oleh lini bisnis yang secara struktural memerlukan kapasitas reasuransi besar, seperti sektor properti, engineering, energi, dan maritim.
Melihat dinamika industri yang masih terukur, Budi juga memproyeksikan kalau industri reasuransi akan tetap tumbuh positif meski cenderung moderat.
Menurutnya, tahun ini industri tidak berada di fase ekspansi yang agresif, melainkan mengarah pada pertumbuhan yang lebih terukur dan berkelanjutan sejalan upaya menjaga keseimbangan portofolio.
Di sisi lain, Budi juga melihat peluang pertumbuhan datang dari kebutuhan proteksi proyek-proyek yang bernilai besar dan risiko yang kompleks.
Baca Juga: Peluang Pertumbuhan Organik Reasuransi Terbuka Lebar
"Kebutuhan proteksi atas proyek bernilai besar dan risiko yang semakin kompleks masih membuka ruang bagi pertumbuhan reasuransi," katanya.
Namun, industri ini masih menghadapi tantangan, terutama persaingan pasar yang ketat. Besarnya pasar membatasi peluang penyesuaian harga dan menuntut perusahaan untuk lebih disiplin dalam melakukan underwriting.
Sejalan dengan itu, ia mengimbau agar meningkatkan premi lebih diarahkan pada optimalisasi struktur reasuransi, penguatan kolaborasi antara pengusaha asuransi dan reasuransi, dan pengembangan risiko-risiko spesialisasi yang menunjukkan tren positif.
Dengan strategi tersebut, harapannya industri reasuransi di tahun ini bisa menjaga fluktuasi kinerja secara lebih seimbang dan berkelanjutan.
Baca Juga: Prospek Reasuransi Tahun 2026 Dipengaruhi Perkembangan Ekuitas Industri Asuransi
Selanjutnya: Mitra Distribusi Optimalkan Penjualan ORI029
Menarik Dibaca: 4 Zodiak Paling Red Flag, Ada yang Terlalu Posesif dan Tidak Konsisten!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












