Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biaya kredit atau cost of credit (CoC) sejumlah bank besar menunjukkan tren penurunan pada kuartal I-2026. Kondisi ini mencerminkan perbaikan kualitas aset serta likuiditas perbankan yang semakin longgar.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) misalnya, mencatat CoC turun dari 0,71% pada kuartal I-2025 menjadi 0,48% di kuartal I-2026.
Penurunan juga terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dari 3,5% menjadi 3,2%, serta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dari 1,1% menjadi 0,9%.
Namun demikian, tidak semua bank mencatat tren serupa. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru mengalami kenaikan CoC dari 0,5% menjadi 0,6%. Hal serupa terjadi pada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang naik dari 0,9% menjadi 1,1%.
Baca Juga: Adu Kinerja Bank Besar pada Kuartal I-2026, Siapa Jawaranya?
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan penurunan CoC didorong sejumlah faktor.
Di antaranya injeksi likuiditas pemerintah sekitar Rp 201 triliun yang akan bertambah Rp 100 triliun hingga September 2026, serta penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 125 basis poin sepanjang tahun lalu.
Selain itu, penurunan Loan at Risk (LAR) turut berperan. LAR mencakup kredit bermasalah (NPL), kredit restrukturisasi, hingga kredit dalam pengawasan.
“LAR yang turun menunjukkan portofolio kredit semakin sehat, sehingga kebutuhan pencadangan menjadi lebih rendah,” ujar Myrdal kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan, kualitas aset industri juga terus membaik. Rasio NPL gross stabil di kisaran 2,1%–2,2%, dengan coverage ratio tetap tinggi, bahkan di atas 200% pada sejumlah bank besar.
Baca Juga: Porsi Kredit BRI pada Kuartal I-2026 Tetap Didominasi Segmen UMKM
Penurunan CoC juga didukung oleh strategi bank yang lebih selektif dalam penyaluran kredit, aksi recovery dan write-off portofolio lama, serta pertumbuhan ekonomi domestik yang solid di kisaran 5,6%.
Meski demikian, Myrdal memperkirakan tren penurunan CoC tidak akan berlangsung drastis. “Perbaikan CoC kemungkinan berlanjut, tetapi cenderung stabil di level rendah dan sehat sepanjang 2026,” jelasnya.
Optimisme ini ditopang likuiditas yang terjaga, BI Rate yang stabil di 4,75%, serta permodalan bank besar dengan rasio kecukupan modal (CAR) di atas 25%.
Namun, risiko eksternal tetap perlu diwaspadai. Gejolak global, ketidakpastian suku bunga, hingga pelemahan rupiah berpotensi menekan kualitas kredit, terutama di segmen UMKM dan konsumsi.
Baca Juga: Laba Bank Mandiri Naik 17%, Kinerja Bank Besar Lain Diproyeksi Tetap Mentereng
Senada, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman, menilai penurunan CoC mencerminkan perbaikan kualitas aset yang telah berlangsung sejak pascapandemi.
Menurutnya, tren LAR yang turun dan NPL yang terjaga di kisaran 2,3%–2,5% membuat kebutuhan pencadangan atau CKPN ikut menurun. Di sisi lain, disiplin penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing juga menekan risiko.
“Penurunan CoC bukan sekadar siklus, tetapi hasil penguatan manajemen risiko dan perbaikan neraca bank,” ujarnya.
Meski demikian, Rizal memperkirakan CoC berpotensi berbalik naik secara moderat pada semester II-2026.
Tekanan berasal dari suku bunga global yang masih tinggi, pelemahan rupiah di kisaran Rp17.000–Rp17.400 per dolar AS, serta indikasi melemahnya daya beli kelas menengah.
Baca Juga: Fenomena Kredit Bank Melambat: Pertanda Ekonomi Stagnan?
Kendati begitu, ruang mitigasi dinilai masih cukup kuat. Perbankan besar memiliki rasio NPL coverage di atas 200%, sehingga kapasitas pencadangan tetap memadai.
“CoC tahun ini cenderung stabil dengan potensi kenaikan terbatas, bukan lonjakan tajam, selama tidak ada shock eksternal signifikan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













