kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Industri pembiayaan bentuk konsorsium maritim


Minggu, 12 April 2015 / 13:18 WIB
Industri pembiayaan bentuk konsorsium maritim
ILUSTRASI. Cara menggunakan fitur terjemahan di Instagram.


Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Sejak awal tahun 2015, para pelaku perusahaan pembiayaan (multifinance) sudah mengenali kesempatan dalam membiayai sektor kelautan. Guna mengeksekusi peluang tersebut, industri pembiayaan pun membentuk konsorsium penyaluran kredit kemaritiman.

Tercatat ada 12 multifinance sudah mendaftarkan diri menjadi anggota konsorsium ini. Yakni PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL), PT BFI Finance Indonesia Tbk, PT Federal International Finance, Astra Credit Companies (ACC), PT Dipo Star Finance, PT Hasjrat Multifinance, PT Indomobil Finance Indonesia, PT Pro Car International Finance, PT Mandiri Tunas Finance, PT Pro Mitra Finance, PT SMFL Leasing Indonesia, serta PT Bosowa Multi Finance.

"Yang confirm sudah ada 12 perusahaan. Konsorsium sudah sepakat ada join leader, kami tunjuk CSUL dan BFI," ujar Efrinal Sinaga, Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Sinergi Industri Keuangan Non Bank Pembiayaan Kemaritiman dan Kelautan.

Ia mengaku hingga saat ini konsorsium tersebut sudah membuat skema pembiayaan kemaritiman dan produk-produk yang akan dibiayai. Nantinya, mereka juga akan menentukan harga, tenor, struktur, uang muka (down payment/DP), hingga besaran bunga yang akan disematkan bagi jenis pembiayaan tersebut.

Konsorsium tersebut juga sepakat bahwa produk pembiayaan kemaritiman akan dibagi dalam dua kelompok utama. Pertama, pembiayaan investasi. Mulai dari kapal, docking, cold storage, alat tangkap, mesin-mesin, hingga pembangunan pom bensin atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bagi para nelayan, baik yang di darat maupun yang terapung di laut.

Sedangkan kelompok kedua menggunakan konsep pembiayaan modal kerja. "Misalnya lebih kepada logistik yang dibutuhkan untuk melaut, atau budidaya. Ini celah baru, kami harap semua dapat menikmati sehingga tidak terjadi persaingan harga," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×