Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan asuransi umum menyatakan tenaga pemasar atau agen asuransi masih memegang peranan penting dalam memasarkan produk. Sejumlah faktor membuat tenaga pemasar masih diandalkan di era digital saat ini, salah satunya pertimbangan biaya yang lebih efisien.
Hal itu juga yang disampaikan perusahaan asuransi umum PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) yang kini masih mengandalkan tenaga pemasar untuk memasarkan produk.
Presiden Direktur Asuransi Bintang HSM Widodo mengatakan biaya yang dikeluarkan lebih efisien ketimbang sepenuhnya melalui digital menjadi penyebab tenaga pemasar masih sangat dibutuhkan.
"Setiap jalur distribusi memiliki karakteristik dan target pasar yang spesifik. Kami mencari yang paling cost efficient," ucapnya kepada Kontan.co.id, Senin (18/9).
Selain biaya, Widodo menerangkan salah satu alasan tenaga pemasar masih diandalkan karena adanya peraturan yang mengharuskan perusahaan menjual produk seperti PAYDI.
Baca Juga: Asuransi Bintang (ASBI) Masih Andalkan Tenaga Pemasar untuk Pasarkan Produk
Meski masih mengandalkan tenaga pemasar, Widodo mengatakan perusahaannya juga menggunakan sistem digital dalam proses operasional.
Dia menambahkan perusahaannya masih berfokus di Indonesia bagian Barat dan Tengah dalam memasarkan produk.
Widodo menerangkan sampai saat ini ASBI memiliki tenaga pemasar internal lebih dari 200 orang, sedangkan agen dan partner sekitar 800 orang.
Senada dengan ASBI, PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) menyampaikan belum sepenuhnya beralih ke sistem digital dalam menjalankan bisnis. Adapun tenaga pemasar masih memegang peranan penting bagi perusahaan tersebut.
Terkait hal itu, Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi menerangkan sejauh ini bisnis melalui online sudah berjalan, tetapi dari segi premi masih kecil.
Meskipun demikian, dia tak memungkiri bisnis melalui digital akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan konvensional.
"Sebenarnya untuk tenaga pemasar, tentunya online lebih efektif. Akan tetapi, setiap produk dan pasar bisa berbeda-beda," ucapnya kepada Kontan.co.id.
Baca Juga: AAUI Nilai Industri Asuransi Umum Masih Perlu Tenaga Pemasar, Ini Penyebabnya
Christian menambahkan sampai saat ini Aswata memiliki tenaga marketing sekitar 450 orang dan tersebar di seluruh Indonesia.
Adapun Aswata mencatatkan premi bruto Aswata hingga Juli 2023 mencapai Rp 1,27 triliun. Pencapaian itu tumbuh 10%, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, PT Asuransi Astra Buana atau Asuransi Astra menerapkan strategi omni channel dalam menjalankan bisnis atau menerapkan kolaborasi antara offline dengan online.
Head of PR, Marcomm, dan Event Asuransi Astra Laurentius Iwan Pranoto menilai, digitalisasi bukan menghilangkan jalur konvensional sepenuhnya.
Sebab, perilaku masyarakat di Indonesia tetap perlu mendapatkan kepercayaan melalui sistem offline, khususnya untuk produk asuransi.
"Bisa menerapkan pencarian secara online, lalu ke offline untuk mendapatkan penjelasan langsung dan membeli secara offline. Bisa juga bertanya secara offline, lalu membeli secara online," ungkapnya kepada Kontan.co.id.
Menurut Iwan, digitalisasi bukan hanya berbicara tentang penjualan, melainkan proses operasional agar layanan lebih terintegrasi, memudahkan, dan mendapatkan pengalaman berkesan bagi pelanggan di setiap tahapan.
Baca Juga: Tak Gunakan Banyak Tenaga Pemasar, Simas Insurtech Sebut 90% Proses Pakai Digital
Dia pun menegaskan Asuransi Astra selalu berusaha untuk memberikan peace of mind kepada seluruh pelanggan dengan konsisten meningkatkan kualitas layanan serta melakukan pengembangan produk-produk dan senantiasa ikut serta dalam perkembangan digital agar dapat terus memberikan kemudahan serta menjawab kebutuhan para pelanggan.
Di sisi lain, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyampaikan, industri asuransi umum masih memerlukan tenaga pemasar dalam memasarkan produk karena belum semua perusahaan asuransi umum beralih ke sistem digital.
Direktur Eksekutif AAUI Bern Dwiyanto menegaskan, tidak semua produk asuransi dapat melalui digitalisasi. Dia mengatakan hanya produk simple risk yang membutuhkan proses digital, seperti kendaraan bermotor personal, house hold, personal accident, dan travel insurance.
"Sebagian besar masih membutuhkan pemasaran secara tatap muka. Oleh karena itu, tenaga pemasar masih sangat dibutuhkan. Untuk produk masal atau mikro, lebih efektif menggunakan online," ucapnya kepada Kontan.co.id.
Selain tidak semua produk asuransi dapat didigitalisasi, Bern menyebut faktor lain yang membuat industri belum menggunakan sistem digital sepenuhnya karena adanya biaya yang tinggi.
Bern pun menerangkan saat ini masih sedikit perusahaan yang sudah dan sedang proses melakukan digitalisasi.
Dia juga tak memungkiri kebijakan transformasi digital dalam sektor jasa keuangan menjadi salah satu prioritas OJK tahun ini. Adapun kebijakan digitalisasi di industri asuransi menjadi salah satu yang menjadi perhatian guna pengembangan digitalisasi.
Baca Juga: Aswata Belum Sepenuhnya Beralih ke Sistem Digital Dalam Menjalankan Bisnis
Meskipun jumlah perusahaan yang menerapkannya masih sedikit, tetapi mulai banyak perusahaan asuransi yang melirik berkolaborasi dengan perusahaan insurtech untuk menghadirkan asuransi digital.
Sebagai informasi, AAUI mencatat data agen di asuransi umum per Juni 2023 sebanyak 66.437 orang. Adapun Juni 2022 sebanyak 62.086 orang.
Selain itu, AAUI menyampaikan pendapatan premi industri asuransi umum pada semester I-2023 naik 6,2% menjadi Rp 48,9 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, premi asuransi umum mencapai Rp 46 triliun.
Sementara itu, jumlah klaim nasabah asuransi pada semester I-2023 mencapai Rp 20,1 triliun atau tumbuh 13,2%, jika dibandingkan Rp 17,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













