kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Tantangan dan Peluang Program 3 Juta Rumah di Tengah Pertumbuhan KPR Melambat


Rabu, 15 Januari 2025 / 07:05 WIB
Tantangan dan Peluang Program 3 Juta Rumah di Tengah Pertumbuhan KPR Melambat
ILUSTRASI. Pekerja beraktivitas pada pembangunan perumahan di Bogor, Jawa Barat, Senin (6/1/2024). Bank Indonesia (BI) mencatat kredit properti Rp 946,42 triliun pada November 2024, tumbuh 12,27% dibanding periode sama tahun sebelumnya.?Penopang pinjaman?sektor properti adalah kredit pemilikan rumah (KPR) tapak dengan pertumbuhan sebesar 9,87% senilai Rp 718,945 triliun. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program prioritas pemerintah untuk membangun tiga juta rumah menjadi salah satu harapan untuk mendongkrak pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Namun, tantangan berupa suku bunga tinggi dan daya beli masyarakat yang terbatas masih menjadi bayangan yang harus diatasi.

Berdasarkan data November 2024, pertumbuhan KPR tercatat melambat menjadi 10,3% secara tahunan (YoY) dengan nilai total Rp 781,7 triliun, dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 10,8% YoY.

Baca Juga: Perbankan Tanggapi Perubahan Skema Pendanaan KPR FLPP Menjadi 50:50

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengungkapkan bahwa program pemerintah berpotensi memperkuat daya beli masyarakat, terutama melalui bauran kebijakan yang mendorong ekspansi kredit dan peningkatan intermediasi perbankan.

“Data menunjukkan bahwa KPR yang disalurkan perbankan masih tumbuh, dan proyeksi kredit ke depan tetap cukup positif,” ujar Dian pada Selasa (14/1).

Namun, Dian juga mengingatkan pentingnya perbankan menjaga likuiditas, terutama dari Dana Pihak Ketiga (DPK), serta menerapkan manajemen risiko yang matang.

“Ada tanggung jawab moral perbankan untuk mengelola dana yang disalurkan ke kegiatan produktif,” tambahnya.

Tingkat bunga KPR yang mengikuti pergerakan suku bunga kredit perbankan menjadi salah satu faktor penting.

Menurut Dian, dinamika global yang penuh ketidakpastian, seperti situasi geopolitik, fluktuasi perdagangan, dan harga komoditas, turut memengaruhi kebijakan suku bunga di Indonesia.

Baca Juga: Great Eastern Nilai Program 3 Juta Rumah Berdampak Positif Terhadap Asuransi Properti

“Kebijakan suku bunga akan merespons dinamika tersebut,” jelas Dian.

Dian juga menyoroti pentingnya instrumen Efek Beragun Aset Surat Partisipasi (EBA-SP) untuk mendukung stabilitas likuiditas perbankan.

Hingga 13 Januari 2025, terdapat 9 EBA-SP yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan nilai total Rp 2,21 triliun.

Menurut Dian, ruang untuk memanfaatkan EBA-SP masih cukup besar.

Selain itu, OJK berkomitmen berkolaborasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan untuk mengintegrasikan kebijakan moneter dan fiskal guna mendukung program tiga juta rumah.

Baca Juga: Fahri Hamzah Pastikan Tak Gunakan Lahan Sawah Buat Program 3 Juta Rumah

Dian memastikan bahwa likuiditas perbankan masih cukup untuk mendukung program tiga juta rumah, dengan rasio likuiditas atau Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 87,34% per November 2024.

“Likuiditas yang ample masih memadai untuk mengantisipasi peningkatan penyaluran kredit,” pungkas Dian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×