Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai dinamika suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan tren kenaikan yield obligasi berpotensi mempengaruhi biaya pendanaan atau cost of fund perusahaan multifinance.
Oleh karena itu, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyampaikan perusahaan multifinance perlu menerapkan sejumlah langkah yang prudent dalam menyikapi kondisi tersebut.
Langkahnya, antara lain melalui diversifikasi sumber pendanaan dan melakukan penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.
Baca Juga: OJK: Tren Penurunan Bunga Kredit Perbankan Belum Berakhir
"Ditambah, optimalisasi refinancing untuk mengelola struktur jatuh tempo kewajiban secara lebih efisien," ujarnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (7/5/2026).
Sementara itu, Agusman mengatakan sumber pendanaan perusahaan multifinance didominasi perbankan. Dia menerangkan sumber pendanaan dari perbankan sebesar Rp 279,74 triliun per Maret 2026. Adapun porsinya mencakup 73,65% terhadap total pendanaan.
Salah satu perusahaan multifinance, yaitu PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance), menerapkan strategi diversifikasi pendanaan, seiring ditahannya suku bunga BI di level 4,75% dan tren kenaikan yield obligasi.
Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa mengatakan aspek ditahannya suku bunga dan kenaikan yield obligasi cukup berpengaruh terhadap pendanaan perusahaan, baik dari perbankan maupun pasar modal. Dia menjelaskan pergerakan suku bunga dan yield menjadi faktor kunci dalam menentukan margin dan pricing pembiayaan.
"Selama suku bunga belum turun atau masih ditahan dan yield obligasi masih tinggi, ruang penurunan cost of fund bagi dunia usaha masih terbatas," ucapnya kepada Kontan, Sabtu (25/4).
Melihat kondisi tersebut, Cincin menyampaikan perusahaan menerapkan strategi pendanaan yang lebih prudent dan terdiversifikasi. Dia bilang WOM Finance tetap berupaya menjaga daya saing dengan melakukan penyesuaian pricing secara selektif, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan kualitas portofolio.
Baca Juga: Fintech Lending Resmi Didukung Asuransi Kredit, Begini Skemanya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













