kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Kebijakan Tarif Trump Dinilai Bisa Berdampak Bagi Lini Asuransi Marine Cargo


Sabtu, 05 April 2025 / 09:19 WIB
Kebijakan Tarif Trump Dinilai Bisa Berdampak Bagi Lini Asuransi Marine Cargo
ILUSTRASI. kinerja asuransi marine cargo bisa menjadi negatif apabila perang tarif menekan volume perdagangan atau memaksa pengalihan rute yang lebih panjang dan berisiko


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pembaruan tarif impor pada Rabu (2/4). Selain pemberlakuan tarif dasar sebesar 10% untuk hampir semua barang impor yang masuk ke AS, Trump juga memberlakukan tarif timbal balik terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32%. 

Kebijakan baru dari Trump tersebut dinilai bisa berdampak negatif bagi industri perasuransian.

Pengamat Asuransi sekaligus Ketua Umum Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) Wahyudin Rahman mengatakan, kinerja asuransi marine cargo bisa saja menjadi negatif apabila perang tarif menekan volume perdagangan atau memaksa pengalihan rute yang lebih panjang dan berisiko.

"Tentu saja bisa terjadi kenaikan klaim. Misalnya, disebabkan kerusakan barang, penundaan, maupun risiko geopolitik," ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/4).

Oleh karena itu, Wahyudin berpendapat perusahaan asuransi yang menyediakan asuransi marine cargo harus siap menyesuaikan pricing dan cakupan polis agar tetap kompetitif dan menjaga profitabilitas.

Baca Juga: Premi Kendaraan OONA Insurance Tumbuh Positif pada Kuartal Pertama 2025

Sementara itu, Wahyudin sempat menyampaikan setidaknya ada 4 tantangan utama yang akan dihadapi lini asuransi marine cargo pada tahun ini.

Pertama, dia menyebut adanya risiko geopolitik dan perang tarif. Kedua, dia berpendapat fluktuasi biaya pengiriman, seperti lonjakan biaya logistik, termasuk bunker fuel dan biaya kanal, bisa memengaruhi nilai pertanggungan dan ketentuan underwriter. 

Ketiga, adanya perubahan regulasi. Wahyudin menjelaskan pengetatan aturan terkait standar pengiriman internasional dan aspek lingkungan bisa menambah kompleksitas proses klaim dan underwriting

Keempat, terkait dengan teknologi dan inovasi. Menurut Wahyudin, adopsi teknologi dalam pelacakan kargo dan blockchain dalam pengelolaan dokumen berpotensi mengubah cara polis dan klaim. Dengan demikian, dia mengatakan perusahaan asuransi yang lamban beradaptasi bisa kehilangan daya saing.

Untuk prospek tahun ini, dia menerangkan kinerja asuransi marine cargo bisa saja terjaga apabila eksportir tetap agresif mencari pasar alternatif, volume perdagangan tetap terjaga, bahkan beralih ke destinasi baru yang bisa memperluas kebutuhan asuransi marine cargo. 

Sebagai informasi, berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pendapatan premi asuransi marine cargo industri mencapai Rp 5,31 triliun pada 2024. Nilai itu meningkat 4,2%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. 

Selanjutnya: Grafik Harga Emas Antam, Hari Ini Naik atau Turun? (5 April 2025)

Menarik Dibaca: Daftar 6 Drama Korea Bertema Tentang Perceraian dengan Beragam Genre

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×