kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Permintaan Paylater Masih Tinggi, Celios Ingatkan Risiko Kualitas Penyaluran


Kamis, 21 Agustus 2025 / 15:58 WIB
Permintaan Paylater Masih Tinggi, Celios Ingatkan Risiko Kualitas Penyaluran
ILUSTRASI. Konsumen berbelanja online menggunakan fasilitas paylater di Tangerang Selatan, Senin (1/5/2023).  (KONTAN/Carolus Agus Waluyo). CELIOS: pasar paylater masih luas karena permintaan untuk pembiayaan dengan penawaran produk layanan keuangan bagi masyarakat masih terbatas.


Reporter: Inggit Yulis Tarigan | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengamat menilai permintaan layanan buy now pay later (BNPL) alias paylater diperkirakan masih relatif tinggi seiring masih lebarnya credit gap di Indonesia. 

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai pasar BNPL masih luas karena permintaan untuk pembiayaan dengan penawaran produk layanan keuangan bagi masyarakat masih tidak sesuai.

“Banyak dari masyarakat yang belum bisa mengakses produk keuangan. Alasannya bermacam-macam, mulai dari sistem yang ribet, hingga proses yang lama,” terang Nailul kepada Kontan, Kamis (21/8/2025).

Baca Juga: Akulaku Finance Andalkan Diversifikasi Pendanaan untuk Dongkrak Paylater

Dari berbagai alasan ini, banyak yang akhirnya memunculkan alternatif financing, salah satunya buy now pay later. Ia memprediksi, pertumbuhan BNPL masih akan dua digit melihat permintaan dan pasarnya yang masih sangat luas. 

Meski begitu, Huda menilai industri BNPL tetap menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, risiko kualitas penyaluran pembiayaan bisa menurun ketika permintaan tinggi namun tidak diimbangi penyaringan yang memadai. 

"Beberapa BNPL punya sistem credit scoring yang baik karena masuk ke dalam SLIK, tapi ada juga yang gencar penetrasi sehingga credit scoring menjadi loss. Non performing financing (NPF) bisa menjadi lebih tinggi," jelasnya.

Selain itu, Ia menambahkan persaingan dengan BNPL perbankan juga diperkirakan semakin ketat. Menurut Nailul, perbankan mulai menanjak karena mempunyai ekosistem yang lebih lengkap secara keuangan.

Sebelumnya, OJK mencatat penyaluran pembiayaan buy now pay later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp 8,56 triliun per Juni 2025, tumbuh 56,26% secara tahunan (YoY).

Baca Juga: Kredit Melesat, Bisnis Paylater Juga Semakin Sehat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×