kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.017   26,00   0,15%
  • IDX 7.092   -5,39   -0,08%
  • KOMPAS100 977   0,13   0,01%
  • LQ45 717   -1,48   -0,21%
  • ISSI 252   2,66   1,07%
  • IDX30 389   -2,31   -0,59%
  • IDXHIDIV20 489   0,39   0,08%
  • IDX80 110   0,25   0,22%
  • IDXV30 136   2,13   1,58%
  • IDXQ30 127   -0,98   -0,77%

Catat Defisit Rp 7,14 Triliun di 2024, BPJS Kesehatan Klaim Layanan Tak Terpangkas


Minggu, 06 Juli 2025 / 13:39 WIB
Diperbarui Minggu, 06 Juli 2025 / 13:39 WIB
Catat Defisit Rp 7,14 Triliun di 2024, BPJS Kesehatan Klaim Layanan Tak Terpangkas
ILUSTRASI. Warga mengakses aplikasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di perangkat telepon pintarnya di Bogor, Jawa Barat, Selasa (25/5/2021). BPJS Kesehatan mengklaim tidak ada layanan yang terpangkas meski kinerja keuangan tengah mengalami defisit Rp 7,14 triliun pada 2024.


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Ali Ghufron Mukti mengklaim bahwa tidak ada layanan yang terpangkas meski kinerja keuangan tengah mengalami defisit sebesar Rp 7,14 triliun di tahun 2024.

Menurut Ghufron, sepanjang tahun 2025 ini kinerja BPJS Kesehatan dalam posisi yang baik.

“Tidak ada layanan yang terpangkas, untuk diketahui BPJS tahun 2025 adalah sehat,” ujarnya kepada KONTAN, Minggu (6/7).

Ghufron mengungkapkan bahwa klaim BPJS Kesehatan yang paling besar sejauh ini untuk penanganan kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Dewan Pengawas Paparkan Penyebab Defisitnya BPJS Kesehatan

“Yang paling besar biayanya itu penyakit jantung, stroke, kangker, gagal ginjal dan penyakit berbiaya tinggi lainnya,” ungkapnya.

Di samping itu, dia pun turut berbagai perkembangan rencana kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS Kesehatan. Di mana, Ghufron bilang saat ini masih dalam pembahasan dengan stakeholder.

“Kebijakan KRIS masih dalam pembicaraan, catatannya terkait tujuan, kesiapan rumah sakit (RS), turun tidaknya paket manfaat terutama dengan kelas dan lain-lain,” pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan laporan keuangan sepanjang tahun 2024, BPJS Kesehatan mencatatkan defisit sebesar Rp 7,14 triliun, sementara di tahun 2023 tercatat surplus sebesar Rp 157,22 miliar

Baca Juga: Kepesertaan Nonaktif BPJS Kesehatan Tembus 56,8 Juta, Ini Kata Pengamat

Defisit ini disumbang dari pos beban jaminan kesehatan yang naik 10,1% year on year (yoy) menjadi Rp 174,9 triliun dibandingkan tahun 2023 yang sebesar Rp 158,85 triliun.

Sementara itu, beban operasional BPJS Kesehatan juga tampak meningkat di tahun 2024 menjadi Rp 5,77 triliun naik 33,56% yoy dibandingkan tahun 2023 yang sebesar Rp 4,32 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×